Menggerakkan Perubahan, Menyongsong Indonesia Emas
Lembaga
Di tengah arus globalisasi dan revolusi industri 4.0, inovasi menjadi tulang punggung kemajuan suatu bangsa. Indonesia, sebagai negara berkembang dengan potensi sumber daya yang besar, menyadari pentingnya membangun ekosistem inovasi yang kuat dan terintegrasi. Untuk mewujudkan visi tersebut, pemerintah membentuk sebuah lembaga strategis bernama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Lahirnya BRIN sebagai Integrator Riset
BRIN merupakan lembaga pemerintah non-kementerian yang dibentuk melalui Peraturan Presiden No. 78 Tahun 2021. Tujuan utamanya adalah mengintegrasikan seluruh kegiatan riset dan inovasi yang sebelumnya tersebar di berbagai institusi seperti LIPI, BPPT, BATAN, dan LAPAN. Dengan menyatukan kekuatan riset nasional, BRIN diharapkan mampu menciptakan efisiensi, sinergi, dan akselerasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tugas dan Fungsi Strategis
Sebagai lembaga yang berada langsung di bawah Presiden, BRIN memiliki mandat besar untuk merancang kebijakan riset dan inovasi nasional, menyediakan fasilitas riset, serta mendorong kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah. BRIN juga berperan dalam hilirisasi hasil riset, agar inovasi tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi bisa diadopsi oleh masyarakat dan dunia usaha.
Selain itu, BRIN mengelola pendanaan riset, memberikan dukungan teknis, dan menjadi pusat data serta informasi riset nasional. Dengan anggaran yang mencapai triliunan rupiah, BRIN menjadi motor penggerak utama dalam menciptakan inovasi yang berdampak nyata bagi pembangunan.
Kepemimpinan dan Arah Baru
Pada November 2025, Arif Satria dilantik sebagai Kepala BRIN yang baru, menggantikan Laksana Tri Handoko. Pergantian ini menandai arah baru dalam penguatan riset nasional, dengan harapan BRIN semakin adaptif terhadap tantangan zaman dan mampu menjawab kebutuhan industri serta masyarakat.
Tantangan dan Harapan
Meski memiliki peran sentral, BRIN menghadapi berbagai tantangan, seperti birokrasi yang kompleks, keterbatasan sumber daya manusia riset, dan rendahnya budaya inovasi di kalangan pelaku usaha. Namun, dengan dukungan politik yang kuat dan semangat kolaborasi lintas sektor, BRIN memiliki peluang besar untuk menjadikan Indonesia sebagai negara berbasis inovasi.
BRIN bukan sekadar lembaga administratif, melainkan simbol komitmen Indonesia untuk melangkah menuju masa depan yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Di tangan BRIN, harapan akan lahirnya inovasi-inovasi unggulan yang mampu menjawab tantangan lokal dan global menjadi semakin nyata. Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan industri, Indonesia bisa menjadi kekuatan inovatif yang diperhitungkan di kancah dunia.
Strategi Nasional untuk Meningkatkan Peringkat Indonesia dalam Innovation Index
Global Innovation Index (GII) merupakan barometer penting dalam mengukur kapasitas dan kinerja inovasi suatu negara. Dalam laporan GII 2025, Indonesia menempati peringkat ke-55, tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam. Untuk mengejar ketertinggalan dan menembus 40 besar dunia, Indonesia perlu merumuskan strategi nasional yang komprehensif, terukur, dan berorientasi pada dampak nyata.
Langkah pertama adalah membangun ekosistem riset yang inklusif dan terintegrasi. Pemerintah perlu memperkuat peran Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai pusat koordinasi riset nasional, sekaligus mendorong pembentukan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) di seluruh provinsi. Sinergi antara pusat dan daerah akan memperluas jangkauan inovasi dan mempercepat adopsi teknologi di berbagai sektor.
Selain itu, pembentukan pusat riset tematik di bidang strategis seperti pangan, energi, kesehatan, dan teknologi digital akan memperkuat fokus riset nasional dan meningkatkan relevansi terhadap kebutuhan masyarakat.
Investasi dalam riset dan pengembangan (R&D) harus ditingkatkan secara signifikan. Pemerintah perlu menetapkan target belanja R&D minimal 1% dari PDB, serta mendorong sektor swasta untuk berkontribusi melalui insentif pajak dan kemudahan regulasi. Dana riset harus dialokasikan secara strategis, dengan prioritas pada riset terapan dan inovasi yang berpotensi komersial.
Sumber daya manusia merupakan fondasi inovasi. Indonesia perlu memperluas program beasiswa dan pelatihan peneliti, termasuk magang internasional dan kolaborasi lintas disiplin. Kurikulum pendidikan tinggi harus diarahkan pada pengembangan keterampilan inovatif, kewirausahaan teknologi, dan literasi digital.
Selain itu, sistem karier peneliti perlu direformasi agar lebih fleksibel, kompetitif, dan berbasis kinerja. Peneliti yang menghasilkan inovasi berdampak harus mendapatkan penghargaan dan insentif yang memadai.
Inovasi harus sampai ke pasar. Pemerintah perlu membentuk unit hilirisasi teknologi yang menjembatani hasil riset dengan dunia industri. Skema pendanaan inkubasi dan start-up berbasis riset harus diperluas, termasuk kemitraan dengan investor swasta dan venture capital. Proses paten dan perlindungan kekayaan intelektual juga harus dipercepat melalui digitalisasi dan simplifikasi prosedur.
Transformasi digital dalam tata kelola riset sangat penting. Pemerintah perlu membangun platform riset nasional berbasis big data dan kecerdasan buatan untuk pemetaan kebutuhan riset, kolaborasi, dan pelaporan. Dashboard kinerja BRIN dan lembaga riset lainnya harus dipublikasikan secara berkala untuk meningkatkan akuntabilitas dan kepercayaan publik.
Indonesia harus aktif dalam diplomasi riset global. Kolaborasi dengan lembaga riset internasional, publikasi bersama, dan partisipasi dalam forum global seperti OECD, UNESCO, dan ASEAN STI akan meningkatkan visibilitas dan kualitas riset nasional. Pembukaan kantor perwakilan BRIN di luar negeri juga dapat memperluas jejaring dan akses teknologi.
Untuk menaikkan peringkat Indonesia ke 40 besar dalam Innovation Index, memang bukanlah tugas mudah, tetapi sangat mungkin dicapai dengan strategi yang tepat. Dengan komitmen politik yang kuat, investasi yang terarah, dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia dapat menjadi kekuatan inovatif yang diperhitungkan di tingkat global. Inovasi bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang keberanian untuk berubah dan menciptakan masa depan yang lebih baik.