Menggerakkan Perubahan, Menyongsong Indonesia Emas
Bisnis
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), dan menyediakan layanan publik yang tidak selalu dapat dijangkau oleh sektor swasta. Namun, dalam praktiknya, banyak BUMD menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan bisnisnya. Masalah-masalah tersebut tidak hanya menghambat kinerja perusahaan, tetapi juga berpotensi membebani keuangan daerah. Untuk menjadikan BUMD sebagai entitas yang sehat, produktif, dan berdaya saing, diperlukan transformasi menyeluruh di berbagai aspek bisnis dan kelembagaan. Berikut adalah identifikasi masalah dan kebutuhan transformasi berdasarkan dimensi-dimensi utama pengelolaan BUMD.
🏛️ Tata Kelola dan Kepemimpinan
Salah satu masalah mendasar dalam pengelolaan BUMD adalah lemahnya tata kelola dan kepemimpinan. Struktur organisasi sering kali tidak efisien, dengan jumlah komisaris yang melebihi kebutuhan dan direksi yang tidak berbasis kompetensi. Penempatan pimpinan kerap dipengaruhi oleh afiliasi politik atau kedekatan personal, bukan profesionalisme dan rekam jejak kinerja. Selain itu, sistem pengawasan internal lemah, dan manajemen risiko belum menjadi budaya yang melekat dalam pengambilan keputusan.
Transformasi pada aspek ini harus dimulai dengan penataan ulang struktur organisasi agar lebih ramping dan fungsional. Rekrutmen pimpinan perlu dilakukan berdasarkan prinsip meritokrasi dan kompetensi profesional. Penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) harus menjadi standar operasional, disertai dengan penguatan fungsi audit internal dan manajemen risiko yang terintegrasi.
📊 Model Bisnis dan Portofolio
Banyak BUMD menjalankan bisnis yang tidak sesuai dengan kebutuhan daerah atau tidak layak secara ekonomi. Beberapa unit usaha bahkan terus merugi tanpa evaluasi yang memadai. Aset produktif yang dimiliki oleh BUMD tidak dimanfaatkan secara optimal, dan strategi pengembangan bisnis cenderung stagnan atau tidak berbasis data dan analisis pasar.
Transformasi model bisnis dan portofolio harus dimulai dengan evaluasi kelayakan usaha secara menyeluruh. Portofolio bisnis perlu direstrukturisasi agar fokus pada sektor yang memiliki nilai tambah dan relevansi dengan kebutuhan daerah. Aset-aset yang tidak produktif harus dioptimalkan atau dialihkan, dan strategi bisnis harus disusun berdasarkan potensi lokal serta tren pasar yang berkembang.
💻 Transformasi Digital dan Inovasi
Pemanfaatan teknologi digital dalam operasional dan layanan publik BUMD masih sangat terbatas. Banyak proses bisnis yang masih dilakukan secara manual, sehingga tidak efisien dan rawan kesalahan. Selain itu, inovasi produk dan layanan sangat minim, membuat BUMD kalah bersaing dengan sektor swasta yang lebih adaptif terhadap perubahan teknologi.
Transformasi digital harus menjadi prioritas utama. Proses bisnis dan pelaporan keuangan perlu didigitalisasi untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi. Layanan kepada pelanggan dan mitra bisnis harus dikembangkan berbasis teknologi digital. Selain itu, budaya inovasi dan kolaborasi lintas sektor perlu dibangun agar BUMD mampu menciptakan solusi yang relevan dan kompetitif.
👥 Penguatan SDM dan Budaya Organisasi (Human Capital)
Sumber daya manusia di BUMD belum sepenuhnya siap menghadapi tantangan bisnis modern. Kompetensi teknis dan manajerial masih rendah, sementara budaya kerja birokratis dan resistensi terhadap perubahan sangat kuat. Minimnya pelatihan dan pengembangan kapasitas menjadi penghambat utama dalam menciptakan organisasi yang adaptif dan produktif.
Transformasi SDM harus dilakukan melalui program pelatihan dan sertifikasi kompetensi yang berkelanjutan. Sistem penilaian kinerja harus berbasis objektivitas dan produktivitas. Budaya kerja yang profesional, adaptif, dan berorientasi hasil perlu ditanamkan di seluruh lapisan organisasi. Selain itu, BUMD harus memberi ruang bagi generasi muda dan talenta digital untuk berkontribusi secara aktif.
🖥️ Teknologi Informasi dan Sistem Pendukung
Sistem informasi manajemen di banyak BUMD belum terintegrasi dan masih bersifat manual. Tidak tersedia dashboard kinerja atau sistem pelaporan real-time yang mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Akibatnya, proses monitoring dan evaluasi menjadi lambat dan tidak akurat.
Transformasi teknologi informasi harus mencakup penerapan sistem ERP, e-procurement, dan pelaporan digital yang terintegrasi. Data keuangan dan operasional harus diintegrasikan dalam satu sistem untuk mendukung efisiensi dan akurasi. Pengembangan sistem informasi berbasis cloud dan mobile juga penting untuk meningkatkan aksesibilitas dan fleksibilitas operasional.
🌐 Keterbukaan terhadap Pasar dan Mitra Strategis
BUMD cenderung tertutup dan enggan bermitra dengan sektor swasta atau investor. Tidak ada strategi yang jelas untuk menarik investasi atau melakukan ekspansi bisnis secara profesional. Hal ini membuat BUMD kehilangan peluang untuk tumbuh dan berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan daerah.
Transformasi pada aspek ini harus dimulai dengan pembukaan akses kerja sama dengan mitra strategis dan investor lokal maupun global. Penerapan standar pelaporan keuangan dan ESG (Environmental, Social, Governance) perlu dilakukan untuk meningkatkan kredibilitas dan daya tarik investasi. Promosi potensi bisnis BUMD secara aktif ke pasar regional dan nasional juga harus menjadi bagian dari strategi ekspansi.
🧩 Penutup: Urgensi Transformasi Menyeluruh
Transformasi bisnis BUMD bukan sekadar pembenahan teknis, tetapi perubahan mendasar dalam cara kerja, kepemimpinan, dan orientasi bisnis. Dengan mengatasi masalah-masalah di atas secara sistematis, BUMD dapat bertransformasi menjadi entitas yang sehat, produktif, dan berkontribusi nyata terhadap pembangunan daerah. Transformasi ini harus dilakukan secara bertahap, terukur, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan agar hasilnya berkelanjutan dan berdampak luas.